Hongkong - Macau - Shenzhen : Day 2

Hari kedua perjalanan kami. Pagi ini, destinasi berikut kami adalah ke Shenzhen, China Mainland. Berdasarkan informasi yg pernah aku baca sebelumnya, dari Hongkong ke Shenzhen, cukup dengan naik kereta api dari stasiun Hunghom hingga perbatasan Hongkong-Shenzhen di stastiun Lowu. Jam 9 pagi kami sudah siap untuk berangkat. Setelah membaca peta MTR.. Wow, ribet juga ya jalan menuju Hunghom. Harus beberapa kali ganti kereta api.

Stasiun terdekat hotel kami, adalah Olympic. Dari Olympic musti ganti 3x ganti kereta api untuk mencapai kereta api jurusan Lowu. Akhirnya, kami bertanya ke petugas hotel. Ternyata, gak perlu serepot itu. Dari hotel kami, cukup berjalan kaki 2 blok saja, lalu cari perhentian minibus dengan nomor 12A.
Bertambah lagi experience kami di Hongkong dengan mencoba publik transportasi yang lain selain kereta api (MTR). Tiba di Hunghom, karena belum sarapan, kami sempatkan diri untuk sarapan pagi di stasiun. Selanjutnya kami bergegas naik kereta api. Perjalanan dari Hunghom ke Lowu memakan waktu 1 jam. Kereta api dari Hunghom ke Lowu sama dengan kereta api - MTR. Jadi kalau tidak dapat tempat duduk, ya berdiri bergelantungan. Untungnya, karena hari sudah siang, jadi kami dapat tempat duduk. Tiba di Lowu, kami memasuki imigrasi. Setelah proses di imigrasi selesai, akhirnya... Shenzhen.... Here I come....

Tujuan pertama kami di Shenzhen adalah Windows of The World. Di Shenzhen juga ada kereta api bawah tanah - MRT. Tapi, aku bersikeras tidak mau naik kereta api bawah tanah. Sudah jauh - jauh datang ke Shenzhen. Masa gak liat kota Shenzhen. Jadi, aku memutuskan agar kami semua naik bis umum. Karena tidak tahu dimana terminal bis terdekat, aku bertanya ke security. Malah diusir oleh security karena dia tidak mau berbahasa inggris. Kami terus berjalan keluar Lowu sambil mencari petunjuk arah yang kebanyakan bertuliskan kanji mandarin. Akhirnya ketemu juga itu terminal bis. Pusing lagi deh mau nomor berapa yang lewat ke Windows of The World. Ada penjual peta. Dengan tarik urat menawar harga, dapatlah sebuah peta rute bis. Ternyata ada 1 bis yang lewat Windows of the world, dan kebetulan bisnya belum jalan. Bergegas kami naik ke bis tersebut. Lagi-lagi bingung deh. Di dalam bis tersebut, ada keneknya. Jadi, kami cukup bilang ke kenek bis (perempuan) bahwa kami bermaksud ke Windows of the world. Petugas itu menyodorkan semacam EDC untuk pembayaran tiket bis. Perjalanan dari Lowu ke Windows of the world cukup lama, sekitar 1,5 jam-an. Aku puas sekali bisa melihat-lihat kota Shenzhen. Jalan - jalannya lebar, banyak gedung bertingkat. Kotanya rapi dan bersih.

Tiba di halte Windows of the world, kami harus turun ke dalam terowongan, untuk menyeberang jalan ke Windows of the world. Sebetulnya apa sih Windows of the world itu? Windows of the world adalah kumpulan icon2 dunia, seperti Menara Eiffel, Piramida, dll. Pintu dari terowongannya pun berbentuk Musee De Lovre. Begitu melewati Musee De Lovre, kita bisa melihat icon2 dunia seperti Menara Eiffel.

Karena hari sudah pukul 1 siang, sebelum masuk ke Windows of The World, kami memutuskan makan siang dulu. Banyak restaurant di depannya. Bagi orang muslim, di situ ada koq restaurant cepat saji KFC. Hanya gak ada nasi kayak di Indonesia. He he he. Ga apa2lah, daripada gak makan sama sekali. Setelah makan, kami pun membeli tiket dan masuk. Kami menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam di Windows of the World, dan gerimis sudah mulai turun. Kami memutuskan untuk kembali ke Lowu untuk berbelanja. Kali ini, kami menggunakan kereta api bawah tanah. Di stasiun MRT, kami kesulitan mencari rute Lowu karena mesinnya berbahasa Mandarin. Setelah mencari di beberapa mesin, akhirnya ada 1 mesin yang menggunakan bahasa inggris. Perjalanan dari Windows of The World ke Lowu memakan waktu 30 menit. Di Lowu, aku dan teman2ku berpisah. Kami berpencar belanja sesuai kebutuhan. Lowu ini terkenal dengan barang2 KW seperti di Mangga Dua. Tapi berbelanja disitu harus menawar habis2an. Tawar menjadi 1/3 harga. Ada tas, dompet, baju, elektronik murah. Aku membeli earphone Dr Beat hanya Rp 200 ribu. Lumayanlah. Kualitasnya cukup bagus. Kami kembali ke Hongkong sudah pukul 8 malam. Dari stasiun Lowu ke Hunghom, penuh sekali penumpangnya. Banyak penumpang yang membawa koper ataupun trolly bag. Mungkin mereka berbelanja untuk dijual lagi. Termasuk penumpang asal Indonesia pun bisa ditemukan dalam kereta api tersebut.

Karena hari sudah malam, perut lapar dan lelah, kami tidak turun di Hunghom. Kami turun di stasiun Mongkok East dan lanjut naik taksi ke hotel.

Selesai perjalanan hari kedua kami.


Hongkong - Macau - Shenzhen : Day 1

Liburan kali ini, aku pergi bersama adikku dan 2 orang temanku ke China. Hehe, pastinya sih Hongkong lagi. Koq aku ga bosan yah ke Hongkong lagi? Soalnya memang aku menyukai liburan ke negara maju seperti Hongkong dan Singapore.

Kali ini, kami berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat Garuda Indonesia yang terbang jam 12 malam. Liburan ini, kami akan berkeliling Hongkong - Macau dan Shenzhen. Untuk masuk ke Shenzhen, kami sudah mengambil visa China sejak 3 minggu sebelum keberangkatan.

Tiba di Hongkong Int' airport pukul 6 pagi waktu setempat. Untunglah, bulan Mei sudah tidak dingin seperti waktu kedatanganku pertama kalinya ke Hongkong. Setelah proses imigrasi dan mengambil bagasi, kami membeli tiket Octopus dan tiket Airport Express. Kami membeli tiket Octopus ini gunanya untuk kemudahan kami dalam menggunakan moda transportasi selama di Hongkong. Karena liburan ini, aku tidak menggunakan tour. Benar - benar mengandalkan GPS di handset dan catatan rencana perjalanan. 

Karena hotel kami berada di Kowloon, maka kami pun turun di stasiun Kowloon dan menggunakan taksi menuju hotel. Pagi itu, masih pukul 8 pagi. Kami belum bisa check in di hotel, sehingga kami melapor, menitipkan bagasi, ganti baju dan cuci muka. Selanjutnya kami sarapan pagi di Mc Donald yang berada persis di seberang hotel. Berikutnya, pagi itu, aku dan kawan - kawan menuju stasiun MTR terdekat (Olympia) dan mengambil rute ke Tsim Tsa Tsui.
Cuaca pagi itu kurang begitu bersahabat, langit nya mendung dan sempat turun hujan. Mungkin karena masih pergantian cuaca dari musim dingin ke musim panas. Kami berfoto di Avenue of Stars, dermaga Tsim Tsa Tsui. Selanjutnya kami berjalan kaki menuju China Harbour untuk menyeberang ke Macau. Ya, rencana di hari pertama itu adalah Macau.


Karena kami kurang tidur selama perjalanan dari Indonesia, kami tertidur nyenyak di kapal yang membawa kami ke Macau. Tiba di Macau, waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami pun menyewa mobil yang akan membawa kami keliling Macau. Rute pertama, seperti perjalanan liburan ku terdahulu, Fisherman Wharf. Kali ini, supir mobil sewaan, memberhentikan mobilnya di tema Jepang/ China. Liburanku sebelumnya, supir mobil sewaan berhenti di tema Yunani.

Selanjutnya, karena kami belum makan siang, kami minta diantarkan di restorant India, yang sudah pasti menjual menu nasi (maklum orang Indonesia, harus ketemu nasi). Untungnya, tidak jauh dari restorant India tersebut, kami bisa melihat patung Dewi Kwan Im modern. Kalau diperhatikan, koq kayak putri duyung yah?? :) 


Selanjutnya, kami menuju Macau Tower. Pada liburanku terdahulu, aku hanya berfoto di kaki Macau Tower. Kali ini, aku dan kawan - kawan, memutuskan untuk naik ke atas Macau Tower dengan membayar 130 MOP atau sekitar 150 ribu rupiah per orang. Bagi orang yang phobia ketinggian seperti aku, berada di Macau Tower agak tidak nyaman. Karena aku ga berani untuk berada di dekat jendela, juga ketika lift menuju ke atas. Karena lift nya kaca dan dari dalam lift bisa melihat pemandangan keluar. Di atas Macau Tower, kami bisa melihat pemandangan Macau 360 derajat. Indah sekali. Tentunya pasti bagus jika malam hari.


Dari Macau Tower, kami dibawa ke sebuah gereja,yang aku tidak familier dengan namanya tetapi pemandangan di sekitar gereja itu bagus sekali. Kami bisa melihat Macau Tower di kejauhan dengan jembatan yang menghubungkan Macau Island dengan China Island dan Taipa / Cotai.



Dari gereja itu, kami menuju Seranado Square, suatu daerah di Macau yang ramai dikunjungi turis - turis. Disitu banyak terdapat bangunan dengan model bangunan Portugis. Wah serasa di Eropa nih. Kami sempat berfoto - foto dan juga belanja cenderamata yang bertuliskan Macau.

Setelah foto - foto di Seranado Square, mobil membawa kami ke destinasi wisata terakhir yang wajib dikunjungi di Macau sebelum kami meluncur ke Taipa/Cotai, yaitu gereja St. Ruins Paul.


Setelah itu, kami pun dibawa ke Taipa/ Cotai. Kami minta diturunkan di The Venetian. Kami menghabiskan waktu sore itu di The Venetian. Sempat juga membeli egg tart yang 'katanya' terkenal di Macau untuk jajanan sore itu. Pukul 7 malam, kami memutuskan untuk kembali ke Kowloon. Kami menaiki bis gratis dari The Venetian yang membawa kami ke Macau Harbour. Tiba di China Harbour, sudah pukul 8 malam. Karena sudah sangat lelah dan mengantuk, kami memilih naik taksi kembali ke hotel untuk beristirahat.




Hongkong - Macau : Last Day

Hari ini adalah hari terakhir kami di Hongkong. Dan merupakan hari bebas untuk berbelanja. Untunglah, karena hotel kami berada di Causeway Bay, memudahkan kami untuk berbelanja. Untuk hari terakhir tidak banyak yang bisa diceritakan, karena memang hanya untuk shopping.
Kami menuju bandara Int' Hongkong pukul 1.30. Tiba di bandara pukul 3. Pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta adalah pukul 5 sore.
Dan berakhirlah perjalanan unplanned trip kali ini. :)

Hongkong - Macau : Day 2

Hari kedua, pagi - pagi aku sudah dibangunkan oleh rekanku, jam 7 pagi. Berat sekali untuk bangun pagi itu. Selain udaranya dingin banget, badan juga pegal - pegal karena jalan kaki. Setelah mandi dan sarapan, kami menuju Victoria Park, sebuah taman yang terkenal tempat berkumpulnya para TKI di hari libur. Memang benar, pagi itu, kami bertemu dengan beberapa orang TKI yang sedang berjalan - jalan di taman tersebut. Entah membawa anak majikannya yang masih kecil ataupun bertemu dengan rekan - rekan sesama TKI. Udaranya dingin sekali. Menggigil berada di taman tersebut. Padahal, cuaca sekitar 14 derajat celcius. Pukul 10 kami bertemu dengan rekan - rekan yang lain. Hari itu, direncanakan akan menuju Macau.
Karena kami menginap di daerah Causeway Bay, suatu daerah di Hongkong Island yang mirip dengan Orchard Road - Singapore. Banyak terdapat mall dengan brand - brand terkemuka, kami masuk ke beberapa toko sambil berjalan menuju stasiun kereta api bawah tanah atau MTR (di Hongkong disebutnya MTR). Makan siang kali ini, kami makan di restorant Indonesia yang cukup terkenal dan berlokasi di seberang Konjen Indonesia. Namanya Warung Chandra. Terdapat perwakilan bank dari Indonesia seperti BNI dan BCA di daerah situ. Setelah makan siang, kami pun menuju stasiun MTR yang akan membawa kami ke Hongkong Central dan menuju pelabuhan Turbo Jet.

Tiba di Macau, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Antrian imigrasi cukup panjang. Karena jika weekend, banyak orang dari Hongkong (turis maupun orang Hongkong) pergi berlibur dan berjudi di Macau. Keluar dari Imigrasi, kami menyewa mobil untuk berkeliling Macau (city tour).

Stop pertama, di Fisherman Wharf, merupakan Theme Park di Macau. Kami hanya berfoto di depannya, karena unik dan terdiri dari beberapa tema.
Selanjutnya, kami menuju Macau Tower. Sebuah tower dengan ketinggian 233 meter. Sore ini, kami tidak naik ke puncaknya karena sudah sore dan masih banyak destinasi lain yang dikunjungi. Jadi kami cukup puas dengan berfoto di kaki Macau Tower.

Destinasi berikutnya, sudah pasti area lokasi perjudian/ casino di Macau, Grand Lisboa. Akhirnya bisa foto juga di depan hotel dan casino Grand Lisboa, yang kalau ga salah menjadi tempat shooting film nya Jhonny English Reborn.





Dari situ, kami menuju gereja yang menjadi icon dan wajib di kunjungi kalau ke Macau, St. Ruins. Gereja yang hanya dinding nya saja. Ruins of St. Paul’s Church adalah gereja yang kini hanya menyisakan fasa depan dan tangga yang selamat dari kebakaran hebat pada tahun 1835. Pertama kali dibangun pada tahun 1580, Gereja St. Paulus mengalami kebakaran pada tahun 1595 dan 1601.
Rekosntruksi dilakukan pada tahun 1602 dan selesai pada 1637. Pada saat itu gereja ini menjadi gereja Katolik terbesar di Asia Timur. Kebakaran melanda lagi pada tahun 1835 sehingga menyisakan bangunan yang kini bisa dikunjungi wisatawan. Padahal konon, gereja ini dibangun dengan batu putih dan memiliki atap berkubah besar.

Selanjutnya kami menuju pulau berikutnya, yaitu daerah Taipa - Cotai, dimana terdapat Hotel dan Casino yang besar - besar seperti The Venetian Macau, The City of Dreams,dll. Dan di drop oleh mobil sewaan di The City of Dreams.
Di The City of Dreams, tentunya disempatkan membeli kaos bertuliskan Hard Rock Macau di Hard Rock Cafe dan Hard Rock Hotel. Selanjutnya, kami menyeberang ke The Venetian. Tidak perlu jauh - jauh ke Eropa, di The Venetian pun dibangun seperti layaknya Venesia. Dengan sungai buatan dan juga kano dan pendayung kano yang menyanyi dengan suara merdunya.
Pukul 9 malam, kami bergegas naik ke bis yang akan membawa kami kembali ke pelabuhan Macau. Oh ya, di Macau ini, hotel dan casino besar menyediakan bis gratis yang membawa turis/pengunjung mall/hotel/casino dari dan ke pelabuhan. Kami memanfaatkan fasilitas ini tentunya. :) 
Tiba di pelabuhan, kami menaiki Turbo Jet menuju Kowloon Ombaknya besar kalau sudah malam ini. Tiba di China Harbour sudah pukul 11 malam. Selanjutnya tujuan kami adalah Ladies Market. Sayangnya tiba di Nathan Road, ladies market nya sudah bubar. Akhirnya kami hanya menyusuri Nathan Road dan selanjutnya naik taksi menuju ke Causeway Bay. Karena banyak berjalan, kami kelaparan dan menyempatkan diri makan Mc Donald yang buka 24 jam. Kami makan hingga pukul 2 dan kembali ke hotel untuk beristirahat.





Hongkong - Macau : Day 1

Tidak pernah menyangka diajak ke Hongkong - Macau. Aku katakan ini sebagai Unplanned Trips karena trip ini tidak pernah masuk dalam list trips yang pengen aku datangi. Tanggal 17 Februari jam 8 pagi, aku dan temanku sudah berkumpul di Bandara Soekarno Hatta terminal 2D karena kami akan menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Pagi itu, antrian di imigrasi sangat panjang. Serombongan orang yang akan berangkat umroh memenuhi 3 antrian di imigrasi. Pukul 9.55, pesawat pun take off menuju Bandara International Hongkong.
Perjalanan menuju Hongkong, jujur saja, sangat membosankan. Selama 4 jam-an. Aku tidak betah berlama - lama di pesawat seperti itu. Mendengarkan musik sudah. Menonton film sudah. Makan siang sudah. Akhirnya, aku sempatkan diri untuk tidur.
Tiba di Bandara International Hongkong, waktu menunjukkan pukul 4 sore. Hongkong lebih cepat 1 jam dibandingkan dengan waktu Jakarta. Setelah proses di imigrasi dan mengambil koper, kami sudah dijemput di depan bandara. Fiuuh, bulan Februari, udara di Hongkong, masih dingin. Penunjuk suhu, saat itu, udaranya 14 derajat celcius. Padahal aku sudah pake jaket tebal, dan baju hangat, masih terasa dingin. Pikirku, siang aja dingin, gimana malamnya ya?



Begitu meninggalkan bandara, aku cukup takjub dengan pemandangannya. Bandara International Hongkong terletak di pulau kecil dan untuk itu, melewati jembatan yg sangat panjang. Jembatan menghubungkan Bandara dengan Lantau Island (Disneyland ada di pulau ini nih). Karena takjub dengan jembatan panjang itu, driver penjemput membawa kami ke suatu lokasi untuk berfoto dengan latar belakang jembatan panjang. Setelah itu, destinasi berikutnya adalah ke daerah Tsim Tsa Tsui di Kowloon. Di daerah ini, banyak sekali butik - butik merk terkenal seperti LV, Chanel, dll. Kali ini cukup liat - liat dari luar toko aja. Hehehe. Foto - foto sebentar di 1881 HERITAGE,

Selanjutnya, kami berjalan kaki ke Dermaga..... dimana terlihat view Hongkong Islands.

Eh, jadi kami saat itu bukan berada di Hong Kong Island. Setelah itu, menyusuri tepian dermaga menuju Avenue of Stars. Kami dijemput lagi oleh driver dan kami makan malam di restoran chinesse food tapi Halal. Sangat sulit menemukan restaurant demikian karena label Halal sangat mahal lisensinya. Tidak sembarang restaurant bisa memasang label halal karena acapkali ada sidak sertifikasi. Setelah kenyang, destinasi berikutnya adalah Victoria Peak. Menuju The Peak, melihat view Hongkong di malam hari dari bukit. Udara malam itu sudah mulai dingin. Informasinya, di The Peak suhu mencapai 7 derajat. Langsung saja, aku menambah ketebalan pakaian dengan memakai sweater. Lengkap sudah 3 lapis baju yang aku kenakan.

Tiba di The Peak Gallery, kami menyempatkan diri mampir ke Madamme Tussaud, yang merupakan museum patung lilin yang menyerupai tokoh - tokoh terkenal, artis, politisi, atlet, pejabat dunia, dan tokoh film.


Setelah foto - foto, kami naik ke tingkat paling atas di The Peak Gallery, yaitu Sky Terrace 360. Di tempat ini, kita bisa melihat pemandangan kota Hongkong di malam hari. Udaranya sangat dingin. Anginnya kencang. Tanganku gemetaran untuk memegang kamera dan menjepretnya. Memasang tripod pun cukup sulit karena dingin. Pipi rasanya udah kebal. Tidak lama berada disitu, buru - buru masuk kembali. Selepas dari The Peak Gallery, next destination adalah Lan Kai Fung. Tempat hiburan malam, dimana tujuan kami adalah Hard Rock Cafe. Bukan untuk clubbing, niatannya mau membeli kaos kenang - kenangan Hongkong. Di daerah itu, banyak sekali cafe - cafe sepanjang jalan. Ramai dipenuhi pemuda pemudi Hongkong dan orang bule. Keren - keren juga orang Hong Kong. Seperti artis film mandarin. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kami segera diantarkan ke hotel di daerah Causeway Bay. Lokasi hotel kami, tepat diseberangnya Victoria Park, taman yang terkenal sebagai ajang pertemuan para TKI. Akhirnya bisa ketemu kasur juga deh.

Day 7 : Last Day (Malaysia)

Hari ini merupakan hari terakhir perjalanan Liburan 3 Negara. Karena jadwal penerbangan kami masih pukul 5 sore, pagi itu kami habiskan dengan berjalan - jalan di kawasan mall Bukit Bintang.

Pukul 2 siang, kami dijemput oleh mobil sewaan untuk membawa kami menuju bandara Kuala Lumpur, dengan waktu perjalanan mencapai 1 jam. Sore itu, kami kembali ke Jakarta dengan menggunakan pesawat KLM rute Kuala Lumpur - Jakarta.

Berakhir sudah perjalanan 3 negara di akhir tahun 2011.

Day 6 : Kuala Lumpur (Malaysia)

Hari ini, acaranya adalah jalan - jalan di Kuala Lumpur - Genting - Batu Caves. Kami sudah menyewa mobil yang akan membawa kami berkeliling. Perjalanan dimulai dengan mengunjungi Istana Negara. Istana Negara ini pada mulanya adalah kediaman seorang ahli dagang Cina, Chan Wing yang dibangun pada 1928. Sewaktu penjajahan Jepang di Malaya pada 1942- 1945, Jepang mengambil alih kediaman ini dan menukarnya menjadi kediaman resmi Jepang dan pejabat pegawai-pegawai Jepang. Setelah berakhirnya perang dunia, kerajaan Negeri Selangor mengubah kediaman ini dan menjadikan ia tempat kediaman resmi Sultan Selangor. Setelah negara mencapai Kemerdekaan pada 1957, Kerajaan Persekutuan yang baru dibentuk ketika itu mengubah kediaman ini menjadi kediaman resmi bagi Yang Di-Pertuan Agong. Next destination, Plaza Tugu Negara. Kemudian melewati Dataran Merdeka, kemudian Kedutaan Besar Indonesia dan mampir di toko cokelat, Berryl's Kingdom. Yumiiieee... bermacam - macam coklat Berryl terdapat disitu. 
Next destination adalah Genting Highland. Untuk mencapai Genting Highland, kami harus menaiki Cable Car melintasi bukit dan tebing. Sangat menyeramkan bagi orang yang takut ketinggian. Karena liburan panjang, antrian untuk menaiki Cable Car, sangat panjang. Sekitar 1 jam-an baru bisa menaiki Cable Car. Di Genting Highland, terdapat hotel, tempat judi, wahana bermain indoor dan outdoor, restaurant. Kami membeli tiket untuk masuk ke Genting Highland dan bisa ditukar dengan lunch buffet di salah satu restaurant di hotel.


Pukul 4 sore kami menuju ke Batu Caves. Batu Caves terletak di negara bagian Selangor, sekitar 13 km dari kota Kuala Lumpur dan merupakan tempat ibadah suci bagi orang Hindu di Malaysia. Yang menarik dari tempat ini adalah kuil-kuil Hindu di dalam gua serta patung dewa Murugan yang menjulang tinggi sekitar 43 meter. Dikatakan bahwa patung Murugan ini merupakan patung dewa Hindu yang tertinggi di dunia. Setiap tahun sekali pada bulan Februari biasanya akan diadakan festival Thaipusam di Batu Caves.


Setelah berfoto - foto, last destination sore itu adalah Twin Tower Petronas atau KLCC, dan selanjutnya kembali ke hotel.


Malam hari, kami berjalan - jalan di kawasan mall Bukit Bintang dengan menggunakan monorail. Malam itu merupakan malam terakhir sebelum berakhirnya perjalanan kami.






Day 5 : Thailand - Malaysia

Pagi - pagi kami sudah bersiap untuk berangkat ke Malaysia menggunakan bis. Aku dan ayahku pagi - pagi sudah ke tempat pemberangkatan bis untuk mengambil tiket kami karena bis melewati hotel kami. Hotel pilihanku memang sangat strategis sekali. Pukul 10 lewat bis menjemput di depan hotel dan kami pun segera naik untuk melanjutkan perjalanan ke Malaysia. Perjalanan ditempuh selama 10 jam. Berbeda dengan saat kami masuk ke Thailand, justru di perbatasan ini cukup ketat. Semua barang WAJIB dibawa turun. Sewaktu berangkat, kami bisa meninggalkan tas backpack di bis, cukup menurunkan koper saja. Perbatasan antara Malaysia dengan Thailand dijaga cukup ketat karena sering ada penyeludup yang masuk melalui perbatasan.
Karena tidak ada hiburan dalam bis, akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja di bis.

Tiba di Terminal Pudu Raya, Kuala Lumpur, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Setelah itu kami menuju hotel yang berlokasi di Chow Kitt atau perkampungan Melayu. Amazing, pemandangan dari jendela hotel sangat indah.

Lokasi hotel di Chow Kitt ini berada di pasar Melayu. Turun dari hotel banyak sekali pedagang kaki lima yang menjual kerudung, baju daster batik, masakan melayu seperti nasi briyani,dll.

Malam itu, karena sudah menempuh perjalanan panjang, jadi kami memutuskan untuk beristirahat saja.

Day 4 : Thailand (Songkhla)

Hari ini, kami akan berkeliling di provinsi Songkhla. Kami dijemput oleh mobil sewaan, sebuah mobil MPV seperti Alphard, yang disewa seharga Rp 600.000 selama 8 jam. Pertama - tama, tujuan kami adalah ke Wat Hat Yai Nai yang berada di atas bukit.  Karena waktu kami tidak banyak, kami hanya berfoto2 sebentar disitu.


Selanjutnya, kami menuju ke Samila Beach, dimana terdapat patung legenda Golden Mermaid Statue. Ada kisah bahwa putri duyung datang dari laut di salah satu malam yang indah. Sementara dia sedang membersihkan rambut dengan sisir emas di pantai, nelayan muda bertemu dengannya. Tapi penampilan nya membuatnya ketakutan dan melarikan diri ke laut. Sang nelayan berusaha mencari tahu dan menunggu dia kembali tapi tidak berguna. Dia tidak datang ke pantai lagi.

 Tidak jauh dari patung Golden Mermaid, terdapat patung Tikus dan Kucing yang merupakan simbol dari Cat and Mouse Island. 

Cat and Mouse Island juga ada kisahnya yang cukup menarik untuk diketahui. 


Seorang kapten pedagang Cina membeli kucing dan anjing sebagai hewan peliharaan, namun, kedua binatang ingin kembali ke rumah. Untuk melakukannya mereka memaksa tikus untuk mencuri dari pedagang, sebuah kristal ajaib, yang dapat mencegah tenggelam. Dengan perlindungan kristal ini mereka masuk ke air dan berenangvkembali ke kota Songkhla. Sayangnya, dengan tujuan mereka di depan mata, pengaruh amat buruk keserakahan muncul di ketiganya. Ketiga binatang itu bertengkar sehingga menyebabkan kristal berharga tersebut hilang di laut. Dalam kebingungan, menyebabkan kucing dan tikus tenggelam sebelum mencapai daratan. Letak bangkai kedua binatang itu menjadi pulau-"Cat Island" dan "Mouse Island". Sedangkan si anjing itu berjuang hingga mencapai darat, tetapi kehabisan nafas dan mati. Letak bangkai anjing tersebut berubah menjadi bukit "Dog Hill" yang tidak jauh dari pantai.


Setelah bersantai sejenak sambil menikmati es campur, perjalanan dilanjutkan menuju Koh Yor Island. Uniknya, dari sisi Samila, menuju Koh Yor Island, kami diseberangkan menggunakan Ferry, melintasi danau. Koh Yor Island berada di tengah - tengah Songkhla Lake. Penyeberangan cuma 10 menit. Sisi lain dari Koh Yor Island, terdapat jembatan panjang "Tinsualanonda Bridges". Di Koh Yor Island, dikenal dengan pertanian dan pembuatan buah - buahan kering. Selanjutnya, kami mampir sebentar ke Sleeping Budha yang berada di ujung pulang Koh Yor. 


Perjalanan dilanjutkan dengan makan siang di kota Hat Yai, dan berakhirlah keliling - keliling Provinsi Songkhla. Kami kembali ke hotel untuk beristirahat sore.


Malam harinya, dengan menggunakan tuk - tuk menuju ASEAN Market. Per orangnya, cukup membayar 20 Baht. ASEAN Market banyak menjual baju - baju, aksesoris dan makanan. Kita harus pintar - pintarnya menawar. Dan pastinya membawa kalkulator karena tidak semua pedagang bisa berbahasa melayu dan bahasa inggris.


Setelah dari ASEAN Market, kami pun kembali ke hotel untuk istirahat dan berkemas. Mengingat besok pagi kami akan meneruskan perjalanan menuju Kuala Lumpur - Malaysia.















Day 3: Thailand (Hatyai)


Setiba di hotel Sakura Grand View Hotel, Hatyai, kami langsung check in. Kebetulan hotel ini, dilalui oleh bis yang membawa kami ke Hatyai. Jadi kami diturunkan tidak di pemberhentian bis, melainkan langsung di depan hotel. Setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami mulai berjalan - jalan di sekitar hotel. Di dekat hotel merupakan daerah pertokoan. Pasar terdekat dari hotel adalah Suntisook Market. Sepanjang jalan banyak dijual buah - buah kering khas dari Thailand. Harga yang dipatok cukup tinggi dan musti ditawar setengah harga. Penjual di Hatyai ada yang bisa berbahasa melayu dan bahasa inggris, jadi tidak perlu khawatir ketika berbelanja. Ataupun kalau memang tidak memahami apa yang diucapkan, sangat disarankan membawa kalkulator kecil untuk menunjukkan angka yang penawaran. 

Selain Suntisook Market, di Hatyai juga ada beberapa shopping centre, Lee Garden Plaza dan Odean Shopping Mall. Dua shopping centre ini lokasinya dekat dengan hotel kami. 


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, kami kembali ke hotel untuk istirahat siang, mengingat semalam kurang tidur.Malam hari, kami berjalan - jalan lagi ke pusat perbelanjaan di Hatyai. Di Night Market yang berada di belakang Odean Shopping Mall, banyak dijual barang - barang aksesories yang lucu2 dan dengan harga yang relatif.

Hari itu, kami habiskan dengan berjalan - jalan di sekitar kota Hatyai. Setelah berjalan - jalan, kami kembali ke hotel, beristirahat karena besok kami akan berkeliling di Provinsi Songkhla, Thailand Selatan.

Day 2 : Singapore - Thailand

Senin pagi, kami sudah bersiap di hotel, sarapan pagi dan kemudian check out. Pagi itu, kami rencananya akan melakukan sight seeing kota Singapore dengan menggunakan bis "Double Decker", Funvee. Per orang di charge S$ 18.3. Aku sudah membeli tiket bis di online web Fun Vee. Tur ini merupakan tur keliling Singapore dengan sistim hop on hop off. Turis bisa turun dari bis dan menunggu bis berikutnya.

Pukul 9 lewat kami dijemput mini van Fun Vee yang akan membawa kami ke pos keberangkatan bis Double Decker Fun Vee, di Singapore Flyer. Setelah proses administrasi, kami mendapat giliran berangkat pukul 10. Aku memilih duduk di atas karena sudah beberapa kali ke Singapore selalu ingin mencoba duduk di bagian atas bis double decker.






Rute pertama melewati Esplanade, agak serem juga duduk di atas. Khawatir kamera dslr milikku jatuh. Next stop, Merlion Parks dimana pengunjung bisa turun untuk berfoto di depan patung singa yang menjadi kebanggaan Singapore. Setelah berfoto-foto kami segera kembali ke halte bis tempat kami turun. Jarak waktu antara bis kami tadi dengan bis berikutnya adalah setengah jam. Bis membawa kami ke beberapa titik object tourism di Singapore. Ketika melewati China Town, kami turun untuk melihat- lihat dan berbelanja cinderamata. Aku sih ke china town cuma untuk beli casing Ipad. Bulan lalu, aku sudah membeli yang warnanya biru muda. Kali ini aku membeli warna hitam. Setelah berbelanja,kami kembali ke tempat kami turun, dan tujuan kami berikutnya adalah surganya belanja, Orchard Road. Sejujurnya, dengan mengikuti bis hop on hop off ini, cukup hemat ongkos MRT atau bis ataupun taxi. Orchard road merupakan titik pemberhentian ke-16, dan bus berhenti di seberang hotel Meritus Mandarin Orchard. Setelah berjalan2 di sekitar Orchard Road, kami kembali ke tempat kami turun. Menunggu bis berikutnya. Setelah berputar2, aku mencoba membaca rute bis. Kami memutuskan untuk tidak mengikuti hingga rute pemberhentian terakhir, karena bis melewati persimpangan Beach Road, dekat hotel kami. Kami turun di Raffles Hotel dan berjalan kaki sekitar 15 menit menuju hotel. Setiba di hotel, setelah beristirahat sejenak, kami masih ada waktu sekitar 4 jam sebelum keberangkatan bis ke Thailand. Kami menghabiskan waktu ke Bugis Junction.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 waktu setempat, kami memutuskan untuk ke Golden Mile Tower, tempat pemberangkatan bis2 dari Singapore menuju Thailand. Pool bisnya, jorok. Berupa bangunan mall yang sudah tua, bau dan kusam. Untungnya, bis yang sudah aku bayar tiketnya via online web, "Konsortium Express", mempunyai lounge yang bersih dan sejuk. Pukul 18.45, kami sudah diminta naik ke bis. Bisnya besar, berwarna merah dan bertuliskan "Konsortium Express". Anyway, jangan berharap ada bantuan untuk memasukkan koper ke bagasi bis, semua harus dikerjakan sendiri. Mengangkat dan menyusun koper di bagasi bis.

Pukul 19, bis berangkat. Setiba di border, perbatasan Singapore - Johor Baru (Kuala Lumpur), jam menunjukkan pukul 19.45. Disini, penumpang bis harus turun membawa passport untuk proses imigrasi keluar Singapore. Semua harus bergerak cepat. Nomor bis harus dihafalkan, karena banyak bis2 malam yang melewati border tersebut. Setelah proses imigrasi, selanjutnya, bis melaju di jembatan panjang menuju Malaysia. Kurang lebih 15 menit, kami tiba di border Johor Baru. Disini penumpang harus turun membawa bagasinya, menuju pabean Malaysia, untuk proses izin masuk Malaysia. Sungguh merepotkan, karena membawa koper yang berat, menaikkan turunkan ke dalam bagasi. Setelah itu, bis bergerak dan memasuki highway road di km 327. Mata mulai terasa mengantuk karena sepanjang jalan hanya hutan2. Ketika jam menunjukkan pukul 11 malam, bis berhenti di peristirahatan, untuk makan malam. Karena sudah memasuki Malaysia, mata uang yang berlaku adalah Ringgit. Mereka menerima uang Singapore Dollar, tetapi lebih baik menggunakan Ringgit supaya tidak repot mengkonversinya. Mengingat perjalanan masih jauh, kami menyempatkan diri ke toilet. Jujur, toiletnya bau busuk sekali. Tidak terlalu kotor, tapi baunya memualkan perut.

Jam setengah 12 malam, bis pun berangkat lagi menuju Kuala Lumpur. Aku mencoba untuk tidur. Untungnya, bisnya besar, seatnya ada reclining dan bisa selonjoran. Tiba di Kuala Lumpur jam 1.30, tepatnya di Pudu. Sebagian besar penumpang bis turun di Pudu. Bis pun berangkat lagi. Aku tertidur selama beberapa jam. Pukul 4 pagi, bis berhenti di pool "Konsortium Express", terdapat banyak bis2 sejenis. Bis kami, mengisi bahan bakar di pool tersebut. Lagi2 kami turun untuk ke toilet. Unik, toilet umum di Malaysia ini, merupakan toilet jongkok, dengan lubang toilet yang dalam.

Setelah itu, bis berangkat lagi. Jam 7 pagi waktu Malaysia, bis berhenti. Supirnya, beristirahat untuk menikmati kopi pagi. Menurut supirnya, kami sudah dekat dengan border Thailand - Malaysia. Setelah cuci muka, menikmati sarapan pagi, bis bergerak lagi menuju border Thailand. Tiba di border Malaysia, seperti border Singapore, kami hanya turun, cap passport dan naik bis lagi. 5 menit dari border Malaysia, tibalah kami di Thailand. Lagi - lagi kami harus mengangkat koper dan turun di imigrasi Thailand, akhirnya, tibalah kami di Thailand. Amazing, dalam 15 jam, sudah 3 negara kami lewati. Kami tiba di Hatyai, jam 9 pagi waktu Thailand, yang artinya sama dengan waktu Jakarta.

Day 1 : Indonesia - Singapore

Liburan kali ini, aku bepergian bersama keluarga ke 3 negara tetangga. Perjalanan yang sudah kami rencanakan sebulan sebelumnya. Kami berangkat bertujuh yg terdiri aku, adikku, kedua orang tuaku, dua orang tanteku dan sepupuku.

Kami berangkat tanggal 25 Desember dengan menggunakan maskapai Sriwijaya Air, rute Jakarta - Batam. Kami terpaksa memilih rute ini karena harga tiket Jakarta - Singapore sudah meroket menjelang libur natal dan tahun baru. Pesawat Sriwijaya Air berangkat dari bandara Soekarno Hatta pukul 8.30 pagi dan tiba di bandara Hang Nadim, Batam pukul 10.15. Setelah pengambilan bagasi, kami menuju mobil penjemput. Karena dijemput, aku mengajak keluargaku makan sop ikan yang terkenal di Batam, YonKee. Sebetulnya yang terkenal berlokasi di daerah Nagoya, tetapi karena kapal cepat yang menuju Singapore lebih banyak rute di Batam Centre, penjemput kami mengantarkan kami ke sop ikan Yong Kee yang berlokasi di Kepri Mall. Sayangnya, pagi itu, restaurant banyak yang masih tutup, entah memang belum buka atau tutup karena tanggal merah. Akhirnya kami memutuskan makan di restaurant sea food yang kebetulan buka dan berlokasi dekat pelabuhan Batam Centre.

Setelah makan, aku mencoba browsing di Ipadku, untuk melihat jadwal keberangkatan kapal cepat yang terdekat. Ternyata, ada, yaitu pukul 12.40 dan selanjutnya pukul 14. Bergegas kami menuju Pelabuhan Batam Centre. Setiba di pelabuhan, bergegas aku dan ayahku membeli tiket kapal cepat Batam Fast pukul 12.40 karena tidak keburu untuk membeli tiket kapal cepat Penguin yang antriannya lebih panjang. Tidak perlu menunggu di boarding room, kami langsung berangkat menuju Singapore.

Selama di tengah laut, ombaknya tinggi dan hujan gerimis. Kapal bergoyang dan memabukkan. Benar2 tidak enak sekali. Kami tiba di pelabuhan Singapore, pukul 14.15 waktu setempat. Setelah proses di pabean Singapore, kami keluar dan menuju counter penyewaan taxi dengan kapasitas 7 orang. Di dekat pintu keluar pabean, ada counter SMRT, dengan menyewa taxi seharga S$ 40, tujuan hotel Park View, Beach Road. Setelah check in, kami keluar untuk berjalan - jalan di Singapore. Tujuan sore itu adalah Sentosa Island. Lokasi hotel kami dekat sekali dengan Bugis Junction. Kami berjalan kaki menuju Bugis Junction dan menggunakan MRT menuju Vivo City, Harbour Front.

Kami tiba di Sentosa Island pukul 17. Setelah puas berfoto-foto, di depan Universal Studio, next destination adalah Mustafa Centre. Di Mustafa Centre, rute MRT terdekat adalah Farrel Park. Kami memutuskan untuk makan malam di sana, mencoba masakan khas Arab, nasi Beriyani yang banyak ditemukan di daerah Mustafa Centre. Malam itu, kawasan tersebut sangat ramai, dipenuhi oleh orang2 India, yang berbelanja. Suasananya sangat ramai dan crowded. Telingaku berdenging mendengar suara2 orang India itu.

Mustafa Centre sering kali dikunjungi oleh orang2 Indonesia untuk membeli oleh2 seperti candies dan coklat. Berbagai macam varian yg unik dan tidak ada di Indonesia banyak dijual disana. Setelah berbelanja, kami pulang ke hotel dengan menyewa van seharga S$ 20. Relatif murah mengingat kami semua bertujuh.
Setiba di hotel, berakhirlah perjalanan hari pertama kami. Harus tidur cepat karena, keesokan hari merupakan hari yang sangat melelahkan , mengingat jadwal rencana perjalanan kami padat.

Makassar - Palu - Makassar

Another trip ke Sulawesi. Kali ini, aku diajak bosku dan rekannya untuk ikut meeting di Sulawesi, tepatnya di kota Palu (Sulawesi Tengah) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Aku mengajak Beatrice untuk menemaniku. Perjalanan kali ini, bisa dibayangkan sangat melelahkan. Karena tidak ada pesawat Garuda Indonesia yang direct ke Palu. Kami musti terbang ke Makassar dan berganti pesawat ke Palu dengan armada lain. Pagi - pagi, dengan flight kedua kami terbang ke Makassar. Tiba di Makassar, sambil menunggu pesawat tujuan Palu. Kami bertiga, aku, Beatrice dan pak Hasbi menunggu di bandara. Bosku sudah berangkat semalam ke Makassar. Aku dan Beatrice tercengang ketika melihat pesawat yang akan membawa kami ke Palu. Pesawat McDouglas, yang panjang dan masuknya dari bagian ekor pesawat. Kami takjub karena belum pernah naik pesawat seperti ini. Sebetulnya sih, pesawat tua. Hehehe. Senang sekaligus cemas, soalnya belum pernah naik pesawat tua dan panjang seperti ini.
Tiba di Palu waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Karena janji meeting dengan Wakil Gubernur Sulteng pukul 2 sore, kami makan siang di sebuah rumah makan kecil di kota Palu. Palu sangat berbeda dengan Makassar. Kotanya tidak ramai. Menu makan siang kali ini adalah Kaledo, iga sapi.  Di Sulawesi, tampaknya makanan khasnya iga sapi ya? Rasanya enak sekali (apa karena lapar ya??? )


Selanjutnya, setelah makan, kami segera ke kantor Wagub dan memutuskan untuk menunggu disana. Ternyata, Bapak Wagub sedang ada kunjungan melayat, sehingg waktu meeting pun bergeser menjadi pukul 4 sore. Ya kami pun duduk - duduk menghabiskan waktu di kantor Wagub, dengan melihat - lihat patung dengan baju adat daerah Sulawesi. Pukul 5.30 meeting selesai, dan kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kembali perjalanan kami ke Makassar.


Memang kami tidak menginap di kota Palu, karena kami masih ada meeting lagi di kota Makassar. Dengan flight terakhir, pukul 7 malam, kami kembali ke Makassar. Tiba di Makassar waktu menunjukkan pukul 8 malam. Aku dan Beatrice masih menyempatkan diri untuk makan es pisang ijo Makassar. Hihihi, abisnya kapan lagi? Mumpung sudah di Makassar.
Malam itu, kami menginap di hotel. Hotel ini unik, berada di atas pantai Losari. Kami mendapat kamar berupa cottage yang berada diatas air. Tapi memang untuk menuju cottage, sangat gelap. Remang - remang tepatnya. Begitu masuk kamar, aku dan Beatrice langsung beristirahat, karena sangat lelah.
Keesokan paginya, barulah kami bisa melihat pemandangan di sekitar hotel. Sangat indah. Dari beranda kamar, bisa langsung melihat ke lautan (ya karena memang hotelnya diatas pantai). Restaurant hotel pun unik yaitu berbentuk kapal. Pagi itu kami habiskan di hotel sebelum ke kantor untuk meeting. Siang itu aku habiskan waktu dengan rapat di kantor. Malamnya kami berjalan - jalan di kota Makassar. Keesokan paginya, kami kembali ke Jakarta.